Asuhan Kebidanan Asfiksia

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Menurut SDKI tahun 2007 angka kematian bayi di Indonesia 35 per 1000 kelahiran hidup yaitu hampir 5 kali lipat dibandingkan dengan angka kematian bayi di Malaysia, sedangkan angka kematian perinatal di negara berkembang termasuk Indonesia masih menjadi masalah utama. Angka kematian di rumah sakit berkisar antara 77,3 sampai 137,7 per 1000 kelahiran hidup. Oleh Hans E Mountja menyimpulkan angka kematian perinatal sebagai berikut : bayi lahir mati, berat badan lahir rendah dan kematian dalam 24 jam pertama kira-kira 37 % dari angka kematian dini. Faktor-faktor yang menyebabkan kematian perinatal meliputi perdarahan, hipertensi, infeksi, kelahiran fireterm (berat bayi lahir rendah), asfiksia dan hipotermi.

Angka kematian bayi neonatal (usia 0 – 28 hari) akibat asfiksia (tidak menangis dan tidak bernapas pada waktu lahir) di Indonesia masih tinggi. Penyebab asfiksia pada bayi antara lain karena faktor pada bayi maupun faktor pada ibu. Jika asfiksia pada bayi tidak segera ditangani maka dapat mengakibatkan kerusakan otak bahkan kematian pada bayi, sedangkan akibat asfiksia pada masa yang akan datang dapat berdampak kecerdasannya berkurang.

Berdasarkan data yang diperoleh di Ruang Melati BPRSUD Kraton Pekalongan tentang penyebab kematian bayi dari bulan Juni – Juli 2008 adalah IUFD 9 bayi, BBLR 2 bayi, prematur 3 bayi.

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas penulis dapat merumuskan masalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir Bayi Ny. J dengan Asfiksia Sedang di Ruang Melati BP RSUD Kraton Pekalongan”.

C.     Tujuan Penulisan

  1. Tujuan Umum

Mendapatkan pengetahuan serta permahaman dan menerapkan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir bayi Ny. J dengan asfiksia sedang.

  1. Tujuan Khusus
    1. Mengumpulkan data baik melalui anamnesa dan pemeriksaan yang dibutuhkan  untuk menilai keadaan klien secara menyeluruh
    2. Mengidentifikasi masalah dan diagnosa
    3. Mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial yang mungkin timbul untuk mengantisipasi penanganannya
    4. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera untuk melaksanakan tindakan
    5. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah selanjutnya
    6. Memberikan asuhan dengan memperhatikan efisiensi dan keamanan tindakan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.     Asfiksia Neonatorum

  1. Pengertian

Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir.  (Wiknjosastro, 2005

Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis. Bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kehamilan. Asfiksia juga dapat mempengaruhi organ vital lainnya. (Sarwono Prawiroharjo, 2002).

Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG, 1998).

Asfiksia adalah kegagalan untuk memulai dan melanjutkan pernapasan secara spontan dan teratur pada saat bayi baru lahir atau beberapa saat sesudah lahir (DEPKES RI, 2004).

Pada bayi yang mengalami kekurangan oksigen akan terjadi pernafasan yang cepat dalam periode yang singkat. Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan berhenti, denyut jantung juga mulai menurun. Sedangkan tonus neuromuskular mulai berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apnue yang dikenal sebagai apnue primer.

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menghadapi bayi dengan asfiksia ialah :

  1. Etiologi dan predisposisi
  2. Gangguan homeostatis
  3. Diagnosis asfiksia bayi
  4. Resusitasi
  1. Klasifikasi

Penilaian

  1. Asfiksia berat (Nilai apgar 1 – 3)
  2. Asfiksia ringan – sedang (Nilai apgar 4 – 6)

Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat bernafas normal kembali.

  1. Bayi normal atau sedikit asfiksia (Nilai Apgar 7 – 9)
  2. Bayi normal dengan nilai apgar 10
  3. Etiologi

Depresi bayi pada saat lahir ini mencakup :

  1. Asfiksia intrauteri

Asfiksia berarti hipoksia yang progresif. Penimbunan CO2 dan asidosis. Bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya.

  1. Bayi kurang bulan

Pada bayi yang kurang bulan. Biasanya akan mengalami kekurangan oksigen akan terjadi pernafasan yang cepat dalam periode yang singkat. Apabila berlanjut, gerakan pernafasan akan berhenti, denyut jantung juga mulai menurun, sedangkan tonus neuromuskular berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apnue yangdikenal sebagai apnue primer.

  1. Obat-obat yang diberikan atau diminum oleh ibu

Akibat obat-obat yang diberikan / diminum oleh ibu merupakan pemberian perangsang dan oksigen selama periode apnue primer dapat merangsang terjadinya pernafasan spontan, kondisi ini menyebabkan pernafasan megap-megap dan tonus otot menurun.

  1. Hipoksia inpartu

Pada awal asfiksia darah lebih banyak dialirkan keotak dan jantung, dengan adanya hipoksia dan asidosis maka fungsi miokardium menurun, curah jantung menurun dan aliran darah ke alat-alat vital juga berkurang (Sarwono, 349).

  1. Asfiksia karena faktor ibu

Salah satu faktor penyebab terjadinya asfiksia adalah karena faktor ibu, antara lain : pre eklamsia dan eklampsia, perdarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta), partus lama atau partus macet, demam selama persalinan, infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV) kehamilan lewat waktu (sesudah 42 minggu kehamilan).

  1. Asfiksia karena faktor tali pusat

Faktor yang menyebabkan penurunan sirkulasi utero plasenter yang berakibat menurunnya pasokan oksigen ke bayi sehingga dapat menyebabkan asfiksia bayi baru lahir antara lain : lilitan tali pusat, tali pusat pendek, simpul tali pusat, prolapsus tali pusat.

  1. Faktor bayi

Ada kacanya asfiksia terjadi tanpa didahului gejala dan tanda gawat janin, umumnya hal ini disebabkan oleh bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan), persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia batu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep, kelainan bawaan (kongenital), air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan).

  1. Patogenesis

Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbul rangsangan terhadap N. Bagus sehingga bayi jantung menjadi lambat. Bila kekurangan O2 ini terus berlangsung, maka N. bagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbul kini rangsang dari N simpatikus. Djj menjadi lebih cepat akhirnya irreguler dan menghilang.

Secara klinis tanda-tanda asfiksia adalah denyut jantung janin yang lebih cepat dari 160 kali permenit atau kurang dari 100 kali per menit, halus dan irreguler, serta adanya pengeluaran mekonium.

Kekurangan O2 juga merangsang usus, sehingga mekonium keluar sebagai tanda janin dalam asfiksia. Jika Djj normal dan ada mekonium, janin mulai asfiksia. Jika Djj lebih dari 160 kali permenit dan ada mekonium, janin dalam keadaan gawat.

Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian tersumbat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru. Bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis, bila alveoli janin tidka berkembang.

  1. Diagnosis
    1. In utera

1)      Djj irreguler dan frekuensinya lebih dari 160 atau kurang dari 100 kali per menit

2)      Terdapat mekonium dalam air ketuban (letak kepala)

3)      Analisa air ketuban / amnioskopi

4)      Kardiotokografi

5)      Ultrasonografi

  1. Setelah bayi lahir

1)      Bayi tampak kebiruan serta tidak bernafas

2)      Kalau sudah mengalami perdarahan diotak ada gejala neotologik seperti kejang, nistogmus dan menangis kurang baik / tidak menangis

  1. Prognosis

Asfiksia livida (biru) lebih baik dari pada pallida (putih). Prognosis tergantung pada kekurangan CO2 dan luasnya perdarahan dalam otak. Bayi yang dalam keadaan asfiksia dan pulih kembali harus dipikirkan kemungkinannya penderita cacat mental seperti epilepsia dan bodoh dan masa mendatang.

  1. Penanganan Asfiksia

Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi dan bisa ditambah D.

A    :  Airway

B    :  Brithing

C    :  Circulation

D    :  Drag

Keterangan :

A    Memastikan saluran terbuka

-         Meletakkan bayi dalam posisi kepala deflexi, bahu diganjal

-         Menghisap lendir dari mulut kemudian hidung

B    Memulai pernafasan

-         Memakai rangsangan taktil untuk memulai pernafasan

-         Memakai UTP bila perlu

C    Mempertahankan sirkulasi darah

-         Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada

D    Pengobatan

Tahap Pelaksanaan resusitasi

  1. Tahap awal
    1. Jaga bayi tetap hangat

1)      Letakkan bayi diatas kain

2)      Bungkus bayi dengan kain

3)      Potong tali pusat dan bungkus kembali bayi

4)      Pindahkan bayi keatas kain yang berada ditempat resusitasi.

  1. Atur posisi bayi

1)      Baringkan bayi terlentang dengan kepala didekat penolong

2)      Ganjal bahu agar kepala sedikit ekstensi

  1. Hisap lendir

1)      Hisap lendir dari mulut

Lakukan penghisapan pada saat penghisap ditarik keluar, tidak pada waktu memasukkan, kedalaman tidak lebih dari 5 cm.

2)      Hisap lendir dari hidung

Lakukan penghisapan pada saat penghisap ditarik keluar, tidak pada waktu memasukkan, kedalaman hisapan tidak lebih dari 3 cm.

  1. Keringkan dan rangsang lagi

1)      Keringkan bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya dengan sedikit tekanan

2)      Lakukan rangsang taktil dengan cara menepuk atau menyentil telapak kaki bayi, menggosok punggung, perut, dada atau tungkai bayi dengan telapak tangan.

  1. Atur kembali posisi kepala bayi dan bungkus bayi

1)      Ganti kain yang telah basah dengan kain yang berada di bawahnya

2)      Bungkus bayi dengan kain tersebut

3)      Atur kembali posisi kepala bayi sehingga kepala sedikit ekstensi

  1. Lakukan penilaian pada bayi

Lakukan penilaian apakah bayi bernafas normal, tidak bernafas atau megap-megap. Bila bayi tidak bernafas atau megap-megap, mulai lakukan ventilasi bayi.

  1. Tahap ventilasi
    1. Pasang sungkup

Pasang dan pegang sungkup agar menutupi mulut dan hidung bayi.

  1. Ventilasi

1)      Lakukan ventilasi menggunakan balon dan sungkup-sungkup

2)      Lihat apakah dada bayi mengembang

Apabila tidak mengembang, periksa posisi kepala, pastikan posisi sudah ekstensi, periksa posisi sungkup, pastikan tidak ada udara yang bocor, periksa cairan atau lendir dari mulut, bila ada lendir atau cairan lakukan penghisapan

3)      Jika dada bayi mengembang, lakukan ventilasi 20 kali dengan tekanan 20 cm air dalam 30 detik.

4)      Nilai apakah bayi menangis atau bernafas spontan dan teratur

5)      Jika ya, lakukan asuhan pasca resusitasi

6)      JIka tidak, lakukan langkah berikut dibawah ini

  1. Ventilasi dan kompresi dada

Baru sirkulasi dengan memulai kompresi dada sambil tetap melanjutkan ventilasi.

1)      Kompresi dilakukan di 1/3 bawah tulang dada dibawah garis khayal yang menghubungkan kedua putting susu bayi, hati-hati jangan menekan Px

2)      Dengan posisi jari-jari dan tangan yang benar, gunakan tekanan yang cukup untuk menekan tulang dada + 1,5 – 5 cm, kemudian tekanan dilepaskan untuk memungkinkan pengisian jantung

3)      Rasio kompresi dada dan ventilasi dalam 1 menit adalah 90 kompresi dada dan 30 ventilasi (3 : 1)

B.     Konsep Dasar Manajemen Kebidanan

  1. Pengertian

Manajemen asuhan kebidanan atau serting disebut manajemen kebidanan adalah metode berpikir dan bertindak secara sistematis dan logis dalam memberikan asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan.

Manajemen kebidanan diadaptasi dari sebuah konsep yang dikembangkan oleh Helen Varney dalam buku Varney’s Midwifery, edisi ketiga tahun 1997, menggambarkan proses manajemen asuhan kebidanan yang terdiri dari 7 (ttujuh) langkah yang berurut secara sistematis dan siklis.

  1. Langkah-langkah manajemen kebidanan

Langkah 1 : Mengumpulkan data baik melalui anamnesa dan pemeriksaan yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara menyeluruh.

Langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.

Untuk memperoleh data dapat dilakukan dengan cara :

  1. Pengambilan riwayat
  2. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital
  3. Pemeriksaan khusus
  4. Pemeriksaan penunjang

Langkah ini merupakan langkah yang akan menentukan langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya, sehingga dalam langkah ini harus terkumpul data yang komprehensif meliputi data subyektif, obyektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi klien yang sebenarnya dan valid, kaji ulang data yang sudah dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat.

Langkah 2 : Menginterpretasikan data dengan tepat untuk mengidentifikasi masalah atau diagnosa.

Pada langkah ini, dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasikan yang akurat atas data-data yang telah dikumpulkan.

Langkah 3 : Mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial/mungkin timbul untuk mengantisipasi penanganannya.

Pada langkah ini, kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan waspada dan bersiap-siap untuk mencegah diagnosa/masalah potensial ini menjadi benar-benar terjadi. Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman.

Langkah 4 : Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, untuk melakukan tindakan, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien.

Mengidentifikasikan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.

Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses penatalaksanaan kebidanan sebelumnya. Jadi penatalaksanaan bukan hanya pada kunjungan antenatal saja, tetapi secara terus-menerus sampai wanita tersebut bersalin dan menyelesaikan masa nifasnya dengan aman.

Langkah 5 : Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah selanjutnya.

Langkah ini merupakan kelanjutan penatalaksanaan terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dilengkapi.

Semua keputusan yang telah disepakati dikembangkan dalam asuhan menyeluruh. Asuhan ini harus rasional dan benar-benar valid. Berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date/terkini serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien.

Langkah 6 : Penatalaksanaan pemberian asuhan dengan memperhatikan efisiensi dan keamanan tindakan.

Pada langkah keenam ini, rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bila dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya memastikan langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana).

Langkah 7 : Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan.

Dilakukan secara siklus dan mengkaji ulang aspek asuhan yang tidak efektif, untuk mengetahui faktor yang menguntungkan dan menghambat keberhasilan asuhan yang diberikan (IBI, 2003 : 12-19).

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR Ny. J DENGAN ASFIKSIA SEDANG DI RUANG MELATI BP RSUD KRATON

PEKALONGAN

Tanggal/jam pasien lahir            : 4 Juli 2008 / 01.35 WIB

Tanggal/jam pengkajian             : 4 Juli 2008 / 01.35 WIB

No. Register                             : 6273

Dokter yang menangani             : dr. Multazam, Sp. A

Tempat                                     : Ruang Melati

PENGKAJIAN

  1. I. Data Subjektif
    1. A. Biodata Pasien

Nama                        : By Ny. J

Umur/tanggal lahir      : 4 Juli 2008, jam 01.35 WIB

Jenis kelamin             : Perempuan

  1. B. Biodata Orang Tua Pasien
Nama Ibu       : Ny. J

Umur             : 34 tahun

Agama           : Islam

Pendidikan      : SD

Pekerjaan       : Ibu Rumah Tangga

Suku/bangsa   : Jawa/Indonesia

Alamat           : Randusari RT 04 RW 02

Doro, Pekalongan

Nama ayah     : Tn. A

Umur    : 40 tahun

Agama            : Islam

Pendidikan      : SD

Pekerjaan       : Buruh

Suku/bangsa   : Jawa/Indonesia

Alamat             : Randusari RT 04 RW 02

Doro, Pekalongan

  1. C. Riwayat Kehamilan Sekarang

Keterangan

Trimester I

Trimester II

Trimester III

ANC di…

Keluhan

Pesan dari Nakes

Imunisasi

Tablet Fe

1x di bidan, 2x di posyandu

tidak ada

-

3x di posyandu

lemas, pusing

istirahat cukup, minum obat teratur, makan makanan bergizi, periksa rutin 1 bulan sekali

TT1 (uk. 4 bulan), TT2 (uk.7 bulan) 30 tablet diminum habis

2x di bidan

tidak ada

periksa rutin 2 minggu sekali, minum obat teratur

-

30 tablet diminum habis

  1. D. Riwayat Persalinan Sekarang
    1. Kala I : tanggal 3 Juli 2008

Jam 09.00 WIB      : ibu merasa kenceng-kenceng pertama

Jam 19.00 WIB      : ibu mengatakan air ketuban dari jalan lahir keluar, tapi hanya sedikit

Jam 19.00 WIB      : ibu mengatakan keluarganya memanggil bidan, oleh bidan langsung dilakukan pemeriksaan tampak kaki di vulva air ketuban, bidan menganjurkan untuk dirujuk ke BP RSUD Kraton Pekalongan. Tetapi karena kesulitan dalam mencari transportasi, ibu bersama bidan dan keluarganya baru sampai ke BP RSUD Kraton Pekalongan pukul 23.30 WIB

Jam 23.30 WIB      : ibu mengatakan tiba di ruang VK BP RSUD Kraton Pekalongan dan oleh bidan juga dilakukan pemeriksaan dengan hasil sebagai berikut :

  1. TTV :

1)      TD                : 100/70 mmHg

2)      S                   : 36ºC

3)      N                  : 88x/menit

4)      R                   : 20x/menit

  1. Palpasi :

1)      Lopold I        : bagian fundus teraba keras, bulan dan melenting

2)      Leopold II     : bagian kanan teraba memanjang, lurus seperti papan, sedangkan bagian kiri teraba bagian kecil-kecil janin

3)      Leopold II     : bagian bawah teraba bagian yang lunak, tidak bulat, tidak melenting, dan sudah masuk panggul

4)      Leopold IV   : divirgen

  1. Auskultasi : DJJ + 134x/menit
  2. VT : portio teraba lunak, vagina terang, KK – (merembes), air ketuban keruh kental, pembukaan 5 cm, bagian bawah teraba kaki sampai paha atas bagian kanan. Oleh bidan ditunggu hingga kaki turun, kaki yang keluar dibungkus dengan kain

Jam 01.00 WIB      : ibu mengatakan kenceng-kenceng semakin sering dan ingin BAB, oleh bidan dilakukan pemeriksaan dalam, hasil : portio tidak teraba, vagina terang, KK – (merebes) air ketuban keruh kental, pembukaan 10 cm, bagian bawah teraba kaki sampai paha atas bagian kanan

  1. Kala II : tanggal 4 Juli 2008

Jam 01.05 WIB      : oleh bidan, ibu dipimpin meneran selama 30 menit. Persalinan di tolong oleh bidan dengan cara lawset

Jam 01.35 WIB      : bayi lahir spontan, hidup, tidak langsung menangis, warna kulit kebiruan, gerakan bayi lemah

  1. E. Riwayat Kesehatan
    1. Riwayat kesehatan pasien

Ibu mengatakan sebelum hamil ibu tidak mempunyai penyakit menurun seperti jantung, asma, kencing manis, tekanan darah tinggi, dan tidak mempunyai penyakit menular seperti penyakit kuning (hepatitis), TBC, dan penyakit seksual menular dan tidak mempunyai riwayat keturunan kembar

  1. Riwayat kesehatan keluarga

Ibu klien mengatakan dalam keluarga klien tidak ada penyakit keturunan seperti jantung, asma, kencing manis, tekanan darah tinggi, dan tidak mempunyai penyakit menular seperti penyakit kuning (hepatitis), TBC, dan penyakit seksual menular dan tidak mempunyai riwayat keturunan kembar

  1. F. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang Lalu

no

Kehamilan

Persalinan

UK

Kead

Tpt

Penolong

Jenis

Menangis

JK

BB

(gr)

PB

(cm)

Kelainan Bawaan

Kead.

1

2

3

4 bln

9 bln

9 bln

abortus

Baik

Baik

-

Rmh

RS

-

Bidan

Bidan

-

Spontan

Spontan

-

Ya

Tidak

-

-

3000

3150

-

lupa

lupa

-

Tidak

Tidak

Baik

Baik

Baik

Nifas

Ket

Involusi

Lochea

Laktasi

Kead

Umur

Kead

-

Normal

Nifas ini

-

Normal

-

2 tahun

-

Baik

-

5 tahun

-

sehat

  1. II. Data Objektif
    1. A. Data Umum
      1. Keadaan umum                                    : sedang
      2. Kesadaran                                            : samnolens
      3. Bayi langsung menangis atau tidak         : tidak langsung menangis
      4. Tenus otot                                            : lemah
      5. Warna kulit                                           : kebiruan
      6. Apgar score                                         :

No

Keterangan

Menit I

1

2

3

4

5

Denyut jantung

Pernapasan

Tonus otot

Reflek peka rangsang

Warna kulit

1

1

1

-

1

Jumlah

4

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: